‘Aya Sofia’

hagia.sophiaHafizh Ibrahim –rahimahullah-, penyair kenamaan Mesir (wafat: 1932) merupakan salah seorang yang menghawatirkan nasib Masjid ‘Aya Sofia’ (Hagia Sophia) pasca runtuhnya kekuasaan Turki Usmani (Ottoman) pada tahun 1924. Dan benar saja, penguasa baru Turki di bawah pimpinan Mustafa Kamal Ataturk mengubahnya menjadi Museum pada tahun 1935. Ungkapan kehawatiran tersebut dituangkan oleh Hafizh Ibrahim –rahimahullah- dalam bait-bait syair sangat menyentuh berikut, yang beliau beri judul ‘Aya Sofia’:

Aya Sofia, tiba saatnya kita berpisah….

Kenanglah masa orang-orang mulia shalat dan mengucap salam

Jika suatu hari engkau kembali ke pangkuan salib dan pemeluknya,

Dan dinding-dindingmu dihiasi dengan gambar Yesus dan Maria

Kemudian lonceng-lonceng pun didentangkan di menara

Sementara penyanyi gereja dari Romawi bernyanyi di altarnya

Maka janganlah engkau pungkiri bahwa masa adzan dikumandangkan,

Lebih mulia di sisi Allah ketimbang masa lonceng didentangkan

Bagaimana mungkin kaum muslimin bisa tertimpa kehinaan

Sedang kitab-Mu dibaca setiap hari dan dimuliakan.

Nabi-Mu bersedih sedang rumah-Mu tertunduk malu

Sementara para pembela kebenaran lelap tertidur

Kami telah bermaksiat dan melanggar maka Engkau menghukum dengan adil

Lalu Engkau jadikan orang-orang tak kenal belas kasih berkuasa atas kami

Namun dengan izin Allah, setelah selama 81 tahun adzan absen dari menara-menara ‘Aya Sofia’, tepatnya hari Kamis 20/10/2016 lalu pemerintah Turki memutuskan mengizinkan adzan kembali berkumandang di atas menara-menara tersebut.

‘Aya Sofia, tiba saatnya kita kembali berjumpa. Dan orang-orang shaleh akan kembali shalat dan mengagungkan Allah di sisimu. (Abu Bakar M. Altway)

Leave a comment