Dasar-Dasar Iman (VI): Iman kepada Takdir

takdirrPembaca yang budiman, pada edisi sebelumnya telah disajikan bahasan mengenai iman kepada hari Akhir sebagai dasar iman yang kelima, maka berikut ini adalah bahasan mengenai dasar iman yang keenam, yaitu iman kepada takdir.Beriman kepada takdir adalah rukun iman yang keenam. Hal ini sebagaimana jawaban Rasulullah ketika ditanya oleh Jibril  tentang iman, beliau bersabda: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ “(Imam adalah) engkau mengimani Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan mengimani takdir yang baik dan yang buruk.” (HR. al-Bukhari, I/19 & 20 dan Muslim, I/37)  Makna iman kepada takdir

Makna iman kepada takdir ialah membenarkan dengan sesungguhnya bahwa segala yang terjadi, baik dan buruk, itu adalah atas qadha dan qadar Allah. Seperti firman Allah, yang artinya, “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.  (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 22-23)

Ayat tersebut di atas membuktikan bahwa segala yang terjadi pada alam semesta dan pada diri manusia, yang baik maupun yang buruk, semua itu sudah ditakdirkan oleh Allah dan ditulis sebelum diciptakannya makhluk.

Macam-macam Takdir

Takdir ada empat macam:

Pertama, takdir umum (takdir azali) yang meliputi segala hal dalam lima puluh ribu tahun sebelum terciptanya langit dan bumi, ketika Allah menciptakan al-Qalam dan memerintahkannya menulis segala apa yang ada sampai hari Kiamat. Dalilnya, firman Allah surat Hud ayat 22 di atas dan sabda Rasulullah:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ – قَالَ – وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

“’Allah telah menulis takdir segala makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.’ Beliau bersabda, ‘Dan ‘Arsy-Nya berada di atas air.’” (HR. Muslim no. 6919)

Kedua, Takdir ‘umuri, yaitu takdir yang diberlakukan atas manusia pada awal penciptaannya, ketika pembentukan air sperma sampai masa sesudah itu, dan bersifat umum mencakup rezeki, perbuatan, kebahagiaan dan kesengsaraan. Dalilnya, sabda Nabi:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا ثُمَّ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ مَلَكًا فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعٍ بِرِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ

“Sesungguhnya salah seorang dari kamu dikumpulkan di perut ibunya selama 40 hari, kemudian berbentuk ‘alaqoh (segumpal darah) seperti itu (lamanya), kemudian mudhghah (segumpal daging) seperti itu (lamanya). Kemudian Allah mengutus seorang malaikat diperintahkan (menulis) empat perkara; rezekinya, ajalnya, sengsara atau bahagia.” (HR. Bukhari no. 6594)   

Ketiga, Takdir sanawi (tahunan), yaitu yang dicatat pada lailatul qadar setiap tahun, seperti firman-Nya, yang artinya:

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad-Dukhan: 4-5)

Page 1 of 3 | Next page