Hati-Hati Dengan Tasyabbuh..!!

 

p4d16610Redaksi Hadits:

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda:

من تشبه بقوم فهو منهم

“Barangsiapa yang meniru satu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.”(HR. Abu Dawud dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Penjelasan:

Tasyabuh secara bahasa adalah meniru, maka jika anda meniru orang lain di dalam ucapannya, perbuatannya atau dalam semua urusannya, saat itu anda telah melakukan tasyabbuh dengannya (meniru).

Adapun makna secara syar’i atau secara istilah adalah meniru orang-orang yang hendaknya diselisihi dalam segala hal yang menjadi ciri khasnya secara mutlak (baik dengan sengaja meniru mereka atau tidak), dan dalam hal-hal yang tidak menjadi ciri khasnya dengan disertai niat/kesengajaan (untuk meniru).

Maka jika kita (kaum Muslimin) meniru ummat selain kita dari kalangan orang-orang yang Allah menginginkan kita untuk berbeda dengan mereka, dalam hal-hal yang menjadi ciri khas mereka dan dalam perkara-perkara yang khusus bagi mereka dan tidak dilakukan oleh selain mereka, maka ini adalah tasyabbuh, sama saja apakah kita sengaja untuk tasyabbuh dengan mereka ataupun tidak. Dan adapun dalam perkara yang tidak menjadi kekhususan mereka maka hukumnya kembali kepada niat si pelaku, apakah dia sengaja (berniat) melakukan tasyabbuh atau tidak.

Sebagai prolog, hendaknya kita memahami dan mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Hakiim (Mahabijaksana), ’Aliim (Mahamengetahui) dan Khabiir(Mahamengetahui dengan detail). Dia mengetahui perkara-perkara yang tersembunyi, dan Dia Mahamengetahui rahasia, yang mengetahui seluk beluk perkara secara rinci. Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi ini yang tersembunyi dari ilmu AllahSubhanahu wa Ta’ala, Dia mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang sedang dan akan terjadi, serta apa-apa yang belum terjadi, seandainya terjadi Dia Mahatahu bagaimana terjadinya hal itu.

Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala Mahabijaksana dalam menetapkan taqdir-Nya, dan Mahabijaksana pula dalam syari’at dan perintah-perintah-Nya. Maka seharusnya setiap muslim menerima hukum-hukum Allah ’Azza wa Jalla yang bersifat Kauniyah, seperti jika ia terkena musibah, maka ia wajib ridha dan pasrah. Dan dia juga seharusnya menerima hukum-hukum Allah yang bersifat Syar’iyyah (hukum syar’i), Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا[(65) سورة النساء].

”Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”(QS. An-Nisaa’: 65)

Dia juga berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [(51) سورة النــور]

”Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili diantara mereka ialah ucapan “Kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”(QS. An-Nuur’: 51)

Maka sikap inilah yang wajib dilakukan oleh setiap muslim, sama saja apakah dia mengetahui hikmah di balik syari’at (perintah dan larangan) ini atau tidak.

Setelah itu aku katakan: Di sana ada banyak hikmah yang jelas dan terang dari pengharaman Tasyabbuh dengan orang kafir dan orang-orang yang Allah haramkan kita dari meniru-niru perilaku mereka. Di antara hikmah-hikmah tersebut adalah:

Pertama:

Page 1 of 3 | Next page