Situs Dakwah & Informasi Islam
Akhlaq Dan Tarbiyah

Berbaik Sangka

baik sangka2Berbaik sangka merupakan amalan hati yang sangat urgen dalam kehidupan seorang muslim. Ia juga memiliki pengaruh yang sangat baik terhadap ketenangan jiwa maupun kebaikan sikap dalam bermuamalah. Karena prasangka yang baik adalah bagian dari sikap optimisme.
Oleh karena itu, barang siapa mengharapkan kebaikan dan kemuliaan dalam dirinya, maka peliharalah hati dengan senantiasa berprasangka baik kepada orang lain. Bahkan keimanan seorang muslim tidak akan sempurna melainkan ia telah melengkapinya dengan berbaik sangka kepada Allah. Karena berbaik sangka kepada Allah termasuk inti dari tauhid dan konsekuensinya.

Definisi berbaik sangka

Secara bahasa “baik sangka” adalah gabungan dari dua kata, kata “baik” yang berarti lawan kata “jelek” dan kata “sangka” yang berarti ragu-ragu bercampur yakin, hanya saja keyakinannya itu tidak sepenuhnya.
Secara istilah berbaik sangka berarti meyakini dan menguatkan sisi kebaikan daripada sisi keburukannya.

Jenis berbaik sangka

Berbaik sangka dapat diklasifikasikan menjadi dua:
a.Berbaik sangka bersifat horizontal
Yaitu berbaik sangka terhadap sesama manusia. Baik terhadap perkataan, perbuatan maupun sikap-sikap yang ditunjukkan oleh orang lain terhadap dirinya atau apa saja yang dilihat dan didengarnya dari orang lain.
b.Berbaik sangka bersifat vertikal
Yaitu berbaik sangka kepada Allah sebagai Rabbnya dengan meyakini apa saja yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya sebagai konsekuensi dari nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna.

Berbaik sangka kepada manusia

Berbaik sangka kepada sesama manusia akan menguatkan persaudaraan dan melahirkan perilaku-perilaku yang baik. Dan sebaliknya berburuk sangka kepada sesama manusia akan menyebabkan rusaknya hubungan persaudaraan dan mendorong dirinya untuk melakukan sikap-sikap yang tidak baik dan perbuatan-perbuatan jahat lainnya yang dilarang oleh syariat.
Bahkan berburuk sangka kepada sesama manusia termasuk perbuatan dosa. Oleh karena itu, Allah melarang orang-orang beriman dari berburuk sangka.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)

As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya, “Allah melarang dari banyak berprasangka buruk terhadap orang-orang beriman, karena sebagian prasangka itu adalah dosa, seperti prasangka yang tidak sesuai dengan hakikat sebenarnya dan tidak disertai adanya indikasi-indikasi yang mengarah kepadanya, yaitu prasangka buruk yang disertai perkataan-perkataan maupun perbuatan-perbuatan haram.
Karena keberadaan buruk sangka dalam hatinya tidak hanya sebatas itu, bahkan pelakunya akan senantiasa berburuk sangka sampai ia mengatakan apa yang seharusnya ia katakan dan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan yang bersumber dari hatinya. Di samping itu, ia akan semakin berburuk sangka kepada seorang muslim, membenci dan memusuhinya, padahal ia diperintahkan untuk melakukan kebalikannya, yaitu berbaik sangka.” (Tafsir As-Sa’di, hal 801)
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir mengutip sebuah hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَنَافَسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

“Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dustanya perkataan. Dan janganlah kalian saling mencari kejelekan orang lain, saling mendengki, saling membenci dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim no. 6701)

Umar bin Khattab pernah berkata, “Janganlah kalian berprasangka terhadap kalimat yang diucapkan oleh saudaramu sesama muslim melainkan prasangka yang baik, dan hendaknya kalian membawa perkataan itu kepada prasangka yang baik.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/377)

Berbaik sangka kepada Allah

Apabila berbaik sangka terhadap sesama manusia adalah sebuah kebaikan dan kemuliaan serta diperintahkan oleh Allah, maka berbaik sangka kepada Allah lebih utama dan lebih membawa kebaikan maupun kemuliaan.Berbaik sangka kepada Allah akan menguatkan keimanan seorang muslim dan melahirkan perilaku-perilaku yang mulia, sementara berburuk sangka kepada Allah hanya akan melemahkan dan merusak keimanan seorang muslim serta akan mendorong dirinya melakukan perbuatan-perbuatan buruk lainnya yang dilarang oleh Allah maupun Rasul-Nya.Oleh karena itu, Allah memerintahkan para hamba-Nya untuk berbaik sangka kepada-Nya, hal ini sebagaimana firman-Nya di dalam hadits qudsi:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

“Aku (akan berbuat) menuruti prasangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Muslim no. 7405)

Dalam riwayat lain disebutkan:

فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ

“Maka berprasangkalah kepada-Ku menurut apa yang dikehendakinya.” (HR. Ahmad no. 16016)

Ibnu Utsaimin mengatakan, “Maksudnya bahwa Allah akan berbuat mengikuti prasangkaan para hamba-Nya terhadap diri-Nya, apabila ia berprasangka baik, maka Dia akan melakukannya (sesuai prasangkaan baik itu), dan jika ia berprsangka buruk maka Dia juga akan melakukannya (sesuai prasangkaan buruk itu).” (Syarh Riyadhus Shalihin, hal 1/501)
Rasulullah juga memerintahkan umatnya untuk memelihara prasangka baik kepada Allah. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwa Rasulullah bersabda:

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِن الظَّنّ بِاَللَّهِ

“Janganlah salah seorang kalian meninggal dunia melainkan ia berbaik sangka kepada Allah.” (HR. Muslim no. 2877)

Hadits ini mengisyaratkan agar seorang muslim untuk senantiasa menjaga prasangka baiknya kepada Allah, di mana dan kapan pun ia berada, tentunya agar ia benar-benar meninggal dunia dalam kondisi tersebut. Karena berbaik sangka kepada Allah merupakan kesempurnaan iman seorang muslim.

Makna berbaik sangka kepada Allah

Imam Nawawi di dalam Syarh Muslim mengatakan, “Para ulama mengatakan, ‘berbaik sangka kepada Allah ialah menyangka (dengan disertai keyakinan) bahwa Allah akan merahmatinya dan memaafkannya.’” (Syarh Muslim, 17/210)
Seorang muslim yang berbaik sangka kepada Allah harus menyangka baik kepada-Nya dengan meyakini bahwa Dia akan menjawab seruannya, mengabulkan doa-doanya, mengampuni dosa-dosanya, memaafkan kesalahan-kesalahannya, dan menunaikan janji-janji-Nya serta apa saja yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya yang menjadi konsekuensi dari nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna.
Demikian juga ia harus benar-benar melakukan amalan-amalan shalih dengan disertai keyakinan baik di dalam hatinya bahwa Allah akan menerimanya dan ia juga harus berusaha untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat.
Maka tidak dibenarkan bagi seorang muslim tatkala dirinya mengatakan berbaik sangka kepada Allah, namun perkataan itu hanya sebatas pengakuan saja tanpa diiringi dengan amalan-amalan shalih yang nyata, dan di sisi lain ia tetap melakukan perbuatan-perbuatan maksiat.
Ibnu Utasimin berkata, “Kapankah seorang hamba itu benar-benar berbaik sangka kepada Allah? Ia telah berbaik sangka kepada Allah tatkala dirinya melakukan amalan-amalan yang akan mendatangkan kemuliaan Allah dan rahmat-Nya, yaitu dengan melakukan amalan-amalan shalih dan berprasangka baik bahwa Allah akan mengabulkannya. Adapun apabila ia berprasangka baik kepada Allah, namun ia tidak mau beramal shalih, maka ini termasuk kategori angan-angan semata kepada Allah. Barangsiapa mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah dengan beragam angan-angannya, maka ia adalah seorang yang lemah.” (Syarh Riyadush Shalihin, 1/501). Wallohu a’lam bishowab

Ditulis oleh Saed As-Saedy

Refrensi:
-Syarh Riyadush Shalihin, Syaikh Ibnu Utsaimin
-Tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Katsir
-Tafsir As-Sa’di, Syaikh As-Sa’di, dll

Leave a Reply

Artikel Terpopuler

Senyum Hari Ini

  • Berita Kematian Berita Kematian
    Seseorang dikagetkan dengan berita pada salah satu surat kabar yang sedang dia baca karena...
Index | |

SMS Dakwah Gratis Hari Ini

  • Penyebab Ketenangan Dalam Sholat Penyebab Ketenangan Dalam Sholat
     إِنَّ مِنْ تَوْقِيرِ الصَّلاةِ أَنْ تَأتِي قَبْلَ الإِقَامَةِ  Artinya: Sesungguhnya salah satu dari hal...
Index | |

Konsultasi Online

Al-Ustadz Husnul Yaqin, Lc
Al-Ustadz Amar Abdullah
Al-Ustadz Saed As-Saedy, Lc

Temukan Kami


Yayasan Al-Sofwa

Jl. Raya Lenteng Agung Barat No. 35
Kode Pos 12610
Jakarta Selatan - Indonesia

Contact Us

Phone : 62-21-78836327
Fax : 62-21-78836326
e-mail : info@alsofwah.or.id

Statistik