Situs Dakwah & Informasi Islam
Arsip Resensi

RISALAH TENTANG SIHIR DAN PERDUKUNAN

Risalah_Sihir____51592fa508637DATA BUKU:
Judul Asli : Risalah Fi Hukmi as-Sihr wa al-Kahanah
Judul Terjemah : Risalah Tentang Sihir dan Perdukunan
Penulis : Syaikh al-Imam Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz n
Muraja’ah Terjemah: Editor Ilmiah DARUL HAQ
Penerbit : DARUL HAQ – Jakarta
Tebal buku : 32 Halaman
Ukuran buku : 12,5 x 17,5 cm
Harga : Rp. 6.000,- (enam ribu rupiah)

Urgensi Tema Buku

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Salman al-Farisi y, bahwasanya beliau berkata,

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُوْلَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِيْ.

“Orang-orang biasanya bertanya kepada Rasulullah a tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan; karena aku takut keburukan akan mendapatkanku (hingga aku terjatuh di dalamnya).” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim).

Ini diperjelas oleh perkataan Umar bin al-Khaththab y,

إِنَّمَا تَنْقُضُ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً، إِذَا نَشَأَ فِي الْإِسْلِامِ مَنْ لَا يَعْرِفِ الْجَاهِلِيَّةِ

“Sesungguhnya tali simpul Islam akan pupus sehelai demi sehelai, apabila tumbuh dalam Islam orang yang tidak mengetahui perkara-perkara jahiliyah (kebatilan).”

Karena itu sebagaimana seorang Muslim mengetahui yang haq, demikian juga dia harus mengetahui yang batil agar tidak terjerumus ke dalamnya; sebagaimana dia wajib mentauhidkan Allah, dia juga wajib meninggalkan semua kesyirikan. Hal itu, karena Islam intinya hanya dua pokok besar: melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Karena itu, keislaman dan keimanan seseorang akan semakin tinggi derajatnya sejalan dengan keteguhan dia menjalankan perintah-perintah Agama dan keteguhan dia menjauhi larangan Agama sekaligus. Artinya, percuma seseorang rajin bersedekah jika juga gemar mencuri, misalnya; percuma tegak mengikuti sunnah-sunnah Nabi a tetapi juga senang dengan amal-amal bid’ah; dan percuma juga bertauhid jika masih melakukan perdukunan dan sihir; serta percuma mengajak kepada kebaikan jika mendiamkan salah satu bentuk kemusyrikan dan kemungkaran yang paling besar yaitu sihir dan perdukunan.

Dan karena begitu besar kebencian Allah terhadap sihir, Allah berfirman,

{وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ}.

“Sulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir), tetapi setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia….” (Al-Baqarah: 102).

Nabi a juga bersabda,

اِجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ. قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: اَلشِّرْكُ بِاللّٰهِ، وَالسِّحْرُ….

“Jauhilah oleh kalian tujuh perbuatan yang membinasakan”. Mereka (para sahabat) bertanya, “Apa saja wahai Rasulullah?” Sabda beliau, “Syirik, sihir, … ” dan seterusnya hadits tersebut. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim).

Masalah sihir adalah masalah yang serius dan besar, yang tidak boleh diabaikan. Sihir dan perdukunan adalah kemungkaran yang besar dan tidak boleh dijadikan sebagi pengobatan alternatif; maka sungguh aneh bila sebagian orang menjadikan sihir sebagai hiburan dan tontonan.

Syaikh al-Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata dalam Tafsir beliau,

“Di antara ekses balik dan hikmah ketetapan ilahiyah adalah bahwa barangsiapa yang meninggalkan apa yang bermanfaat baginya padahal memungkinkan baginya untuk mengambil manfaat darinya tetapi dia tidak mengambil manfaat, pasti dia akan diuji dengan menyibukkan diri dengan apa yang memudaratkannya. Maka siapa yang meninggalkan beribadah kepada Allah, pasti akan diuji dengan beribadah kepada berhala; siapa yang meninggalkan cinta, rasa takut dan pengharapan kepada Allah, dia pasti akan cinta takut dan berharap kepada selain Allah; siapa yang tidak menginfakkan hartanya di jalan ketaatan kepada Allah, dia pasti akan membelanjakan hartanya di jalan ketaatan kepada setan; siapa yang tidak merendahkan diri kepada Tuhannya, dia pasti akan merendahkan dirinya kepada hamba yang justru rendah seperti dirinya; dan siapa yang meninggalkan yang haq, dia pasti akan diuji dengan memilih kebatilan. Maka begitulah yang dilakukan oleh kaum Yahudi; ketika mereka mencampakkan Kitab suci Allah, mereka malah menerima dan mengikuti apa yang dibisikkan oleh setan berupa sihir….” (Tafsir as-Sa’di, Al-Baqarah: 101).

Syaikhul Islam berkata, “Nama dan sebutan tukang sihir dikenal luas di semua umat.” (an-Nubuwwat, hal. 272).

Ini diperjelas oleh Syaikh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad Ali Abdul Lathif hafizhahullah, dalam Nawaqidhul Iman al-Qauliyah wa al-Amaliyah, dengan berkata, “Sihir telah ada di kalangan orang-orang Persia (para penyembah api), juga masyarakat Mesir kuno, juga di India, Yunani dan lainnya; sebagaimana halnya orang-orang Yahudi yang mencampakkan Kitab suci Allah, maka mereka justru mengikuti bisikan setan dan mengikuti apa yang dibacakan setan, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

“Dan setelah datang kepada mereka seorang rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah). Dan mereka mengikuti apa yang dibaca ogle setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir), tetapi setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia….” (Al-Baqarah: 101-102).

Karena itu, para tukang sihir, dan termasuk di dalamnya para dukun, hakikatnya adalah para pengikut orang-orang kafir dan orang-orang musyrik. Dan Islam telah menyatakan bahwa sihir adalah musuh Tauhid dan musuh Syari’at.

Amma Ba’du:

Setelah itu semua kami kemukakan, kami katakan, Sungguh sangat ironi umat manusia, yang katanya telah mencapai tarap berbudaya, modern dan maju, masih mempraktikkan ajaran setan, yaitu sihir dan perdukunan ini; yang jelas tidak rasionil, tidak berbudaya dan tidak diridhai oleh Allah, Tuhan semesta ini. Dan andai saja yang membela praktik-praktik iblis seperti ini adalah orang-orang non Muslim, kita tentu tidak begitu ambil pusing. Akan tetapi yang sangat menyedihkan, justru usaha sebagian kaum muslimin untuk membendung praktik-praktik merusak ini, untuk melindungi umat dari tipu daya setan dan kebohongan para dukun, dan sebagai wujud bahwa kita adalah masyarakat madani, justru ditentang oleh sebagian orang-orang yang juga mengaku Muslim. Fa La Haula Wala Quwwata Illa Billah.

Apakah belum pernah sampai kepada mereka peringatan-peringatan Allah dan RasulNya? Apakah sudah tuli pendengaran mereka? Apakah sebegitu parah kebutaan mata hati mereka? Ya Allah! Hanya kepadaMu kami mengadukan kondisi umat ini.

Berdasarkan uraian di atas, maka buku kita ini, “Risalah Tentang Sihir dan Perdukunan”, adalah tema yang sangat penting dan urgen, dan kami munculkan pada saat yang tepat, Insya Allah, karena bertepatan dengan hiruk pikuk undang-undang santet dan sihir yang tengah digodok di DPR RI. Buku dengan jumlah halaman yang terbatas, mampu menyingkap berbagai hal tentang sihir dan perdukunan berdasarkan al-Qur`an dan as-Sunnah.

Isi Buku Secara Umum

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, penulis buku ini, mengawali dengan menyatakan bahwa pergi ke dokter, baik berkaitan dengan penyakit dalam, saraf, atau penyakit badan pada umumnya untuk berobat adalah suatu yang boleh; karena tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit kecuali telah pula menurunkan obat baginya, yang diketahui oleh sebagian orang dan tidak diketahui oleh sebagian yang lainnya. Akan tetapi Allah tidak menjadikan penyembuhan suatu penyakit pada sesuatu yang diharamkanNya bagi manusia.

Karena itu, adalah batil dan haram bagi seorang Muslim untuk pergi berobat ke para dukun dan tukang sihir, bahkan tidak boleh membenarkan perkataan mereka, dan bahkan dukun itu dihukumi kafir bila mengaku mengetahui hal-hal ghaib. Imam Muslim meriwayatkan, bahwasanya Nabi a bersabda,

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal (‘arraf), maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari.”

Kemudian dari Abu Hurairah y, dari Nabi a, beliau bersabda,

“Barangsiapa yang mendatangi dukun (kahin) dan membenarkan apa yang dia katakan, maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad a.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud).

Hadits ini juga diriwayatkan oleh penulis kitab Sunnan yang empat dan dinyatakan shahih oleh al-Hakim dengan lafazh,

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun dan membenarkan apa yang dia katakan, maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad a.”

Dalam hadits lain dari Imran bin Hushain y, Nabi a bersabda,

“Bukan termasuk golongan kami orang yang melakukan tathayyur atau meminta dilakukan tathayyur untuknya, orang yang meramal atau meminta diramal, yang menyihir atau dilakukan sihir untuknya. Barangsiapa yang mendatangi dukun dan membenarkan apa yang dia katakan, maka sungguh dia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad a.” (Diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad yang jayyid (baik).”

Dalam hadits-hadits yang mulia ini jelas tarkandung larangan terhadap praktik perdukunan dan sihir secara umum. Oleh karena itu, maka wajib bagi para pemimpin dan setiap orang yang mampu untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar untuk mengingkari tindakan mendatangi dukun dan mencegah perdukunan di tengah masyarakat; karena itu adalah kemungkaran yang besar, dan juga mendatangkan bahaya yang besar.

Dalam hadits-hadits di atas juga jelas terkandung dalil kafirnya para dukun dan tukang sihir; karena mereka mengaku mengetahui hal-hal ghaib. Dan sihir jelas merupakan salah satu perbuatan yang menyebabkan kekafiran, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang kisah dua malaikat,

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir), tetapi setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu). Sebab itu, janganlah kamu kafir’. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Dan sungguh mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, maka tidaklah dia mendapatkan keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (Al-Baqarah: 102).

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa:
1. Sihir merupakan perbuatan kufur.
2. Bahwasanya sihir itu tidak akan berpengaruh apa-apa kecuali dengan izin Allah.
3. Sihir mendatangkan bahaya dan keburukan yang besar di tengah masyarakat, hingga bisa memisahkan seorang suami dari istrinya dan sebaliknya.
4. Para pendusta dari para dukun dan tukang sihir mewarisi ilmu itu dari orang-orang musyrik lagi kafir; maka kebaikan apa yang bisa diharapkan darinya?
5. hanya orang-orang bodoh dan tolol yang masih tertipu dengan bualan para dukun dan tukang sihir; dan itu adalah cara yang ditempuh oleh orang-orang yang berhati keji dan pengucut.
6. Orang yang melakukan sihir tidak memiliki bagian apapun di sisi Allah. Allah mencela mereka dalam ayat ini, “dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui.”

Begitulah uraian penulis, yang kami sajikan dalam resensi ini secara ringkas.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, kemudian menguraikan “Cara Menangkal dan Menaggulangi Sihir”. Beliau mengatakan bahwa menangkal sihir dapat di lakukan sebelum dan sesudah terkena suatu sihir.

Nah, bagian ini sangatlah penting bagi kita semua kaum muslimin, dan apa yang beliau tuangkan dalam buku ini adalah bukti keluasan dan kedalaman ilmu sang Imam yang agung ini. Maka sangat patut diperhatikan oleh kita semua. Beliau memberikan bimbingan agar tidak terkena sihir, bila belum terkena, dan agar terbebas dari sihir bila telah terkena. Maka silahkan Anda mengkajinya dalam buku kita ini.

Kesimpulan dan Rokomendasi

Hampir semua, atau bahkan semua orang yang menolak rancangan undang-undang mengenai sihir dan santet yang sedang diekspos besar-besaran sekarang ini, dengan bahwa kejahatan sihir maupun santet tidak bisa dibuktikan secara materil.

Maka sebagai sumbangsih, kami ingatkan bahwa, pertama, inilah bukti bahwa manusia itu lemah; karena untuk membuktikan seorang yang telah jelas dikatakan oleh Allah sebagai pengikut setan saja tidak mampu. Maka produk-produk hukum dari orang-orang yang lemah seperti ini, pasti akan melahirkan masalah baru. Karena itu, mari kita bertaubat kepada Allah, kita kembali mengingat bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Apa saja yang Allah tetapkan sebagai aturan hidup, pasti didasari oleh IlmuNya dan pasti merupakan suatu yang bijakasana. Bukankah Allah telah menyatakan bahwa sihir adalah suatu kekafiran? Kedua, sihir itu sangat mungkin dibuktikan secara materil. Hal itu karena sihir, atau santet itu, menggunakan media berupa benda; entah jarum, paku, keris, benang, minyak dan sebagainya. Jika demikian, bukankah media-media ini bisa ditelusuri, siapa yang meletakkannya, dari mana asal muasalnya; baik dengan sidik jari atau identifikasi menggunakan alat-alat modern?

Nah, melangkah ke arah kesadaran ini, kita membutuhkan bimbingan awal yang baik, dan buku ini adalah pilihan yang tepat Insya Allah. Dengan jumlah halaman tak seberapa tapi padat dan fokus mengulas berbagai pokok persoalan sihir dan perdukunan. Maka jangan sampai perpustakaan Anda kosong dari buku yang bagus ini, kemudian berusahalah menghadiahkannya serta sebarkanlah seluas mungkin di tengah masyarakat. Insya Allah mendatangkan banyak kebaikan.

Informasi:
Telp. 021 84999585
Sms: 0812 812 009 02
www.darulhaq.com

Leave a Reply

Artikel Terpopuler

Senyum Hari Ini

  • Berita Kematian Berita Kematian
    Seseorang dikagetkan dengan berita pada salah satu surat kabar yang sedang dia baca karena...
Index | |

SMS Dakwah Gratis Hari Ini

  • Penyebab Ketenangan Dalam Sholat Penyebab Ketenangan Dalam Sholat
     إِنَّ مِنْ تَوْقِيرِ الصَّلاةِ أَنْ تَأتِي قَبْلَ الإِقَامَةِ  Artinya: Sesungguhnya salah satu dari hal...
Index | |

Konsultasi Online

Al-Ustadz Husnul Yaqin, Lc
Al-Ustadz Amar Abdullah
Al-Ustadz Saed As-Saedy, Lc

Temukan Kami


Yayasan Al-Sofwa

Jl. Raya Lenteng Agung Barat No. 35
Kode Pos 12610
Jakarta Selatan - Indonesia

Contact Us

Phone : 62-21-78836327
Fax : 62-21-78836326
e-mail : info@alsofwah.or.id

Statistik