Situs Dakwah & Informasi Islam
Arsip Tokoh, Sebelum Abad 3 H

Abu Hasan Al-Asy’ari (260 H-324H)

cahaya hatiNama, nasab dan lahirnya beliau

Beliau adalah Abu Al-Hasan Ali bin Ism’il bin Ishaq bin Saalim bin Isma’il bin Abdillah bin Musa bin Abi Burdah bin Abu Musa Al-Asy’ari.

Beliau lahir pada tahun 260 H di Bashrah, ada yang mengatakan lahir pada tahun 270 H. Beliau wafat pada tahun 324 H, ada yang mengatakan wafat di tahun 333 H, ada juga yang mengatakan wafat pada tahun 330 H. Meninggal di kota Baghdad dan disemayamkan di pemakaman antara Al-Karkh dan pintu masuk Bashrah.

Rihlah ilmiah beliau

Beliau datang dari kampungnya menuju ke kota Baghdad untuk belajar dan menuntut ilmu, beliau belajar hadits kepada Al-Hafidz Zakaria bin Yahya As-Saaji, dimana beliau adalah salah satu Imam ahli hadits dan fikih di zamannya.

Beliau juga belajar kepada Abu Khalifah Al-Jamhi, Sahl bin Sarh, Muhammad bin Ya’kub Al-Muqri, Abdurrahman bin Khalaf Al-Bashriyin. Beliau bahkan banyak meriwayatkan hadits-hadits dalam kitab tafsirnya dari jalur mereka, yaitu dalam kitab Al-Mukhtazan. Adapun ilmu kalam beliau banyak belajar kepada Abu Ali Al-Jabba’i seorang tokoh terkemuka dalam sekte Mu’tazilah.

Sejatinya beliau adalah seorang sunni dan dari keluarga sunni, namun setelah beliau belajar ilmu kalam dari Abu Ali Al-Jabba’i, beliau terpengaruh dan menjadi pengikut mu’tazilah. Setelah berlalunya masa, beliau bertaubat dan naik ke atas mimbar di Masjid Jami’ di kota Bashrah pada hari jumat sembari berbicara dengan nada tinggi, “Siapa yang mengenalku, maka ia telah mengenalku, dan siapa yang tidak mengenalku, maka aku perkenalkan diriku di sini, aku adalah fulan bin fulan, dulu aku berpendapat bahwa al-Qur’an adalah makhluk, Allah tidak bisa dilihat oleh kasat mata, dan perbuatan-perbuatan buruk akulah yang menciptakannya. Sekarang aku bertaubat dengan sebenar-benarnya, aku bertekad untuk membantah orang-orang Mu’tazilah, dan akan menyingkap keburukan, penyimpangan dan cela yang mereka miliki.”

Dikisahkan bahwa tatkala beliau telah menguasai ilmu kalam di kalangan sekte Mu’tazilah, beliau pernah menyampaikan beberapa pertanyaan kepada gurunya saat belajar, namun dirinya tidak mendapatkan jawaban yang lengkap dan memuaskan. Akhirnya beliau merasa bingung dan bimbang.

Beliau mengisahkan, “Pada suatu malam terlintas dalam hatiku terkait masalah akidah yang masih membuatku bingung. Lantas aku pun bangun dan mengerjakan shalat dua rekaat, berdoa kepada Allah agar memberiku petunjuk ke jalan yang lurus. Setelah itu aku kembali tidur, aku pun bermimpi bertemu Rasulullah, lalu aku sampaikan hal-hal yang sedang menimpaku. Rasulullah bersabda kepadaku, “Hendaklah kamu berpegang teguh dengan sunnahku.” Aku pun kaget dan terbangun dari tidurnya.. setelah itu aku cocokan masalah-masalah yang ada dalam ilmu kalam dengan apa yang ada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Yang sesuai dengan keduanya tetap aku pegang teguh, adapun yang bertentangan aku tinggalkan.”

Al-Khatib Al-Baghdadi mengatakan dalam kitab Tarikhnya halaman 346, “Abu Hasan Al-Asy’ari yang merupakan ahli kalam adalah seorang penulis yang banyak menulis buku untuk membantah orang-orang yang menyimpang dari sekte Mu’tazilah, Rafidhah, Jahmiyah, Khawarij dan semua kelompok-kelompok ahli bid’ah.”

Pujian terhadap beliau

Beliau adalah seorang ulama yang memiliki keutamaan-keutamaan yang tidak diragukan lagi, terlebih setelah kembalinya beliau kepada aqidah ahlussunnah dan kegigihan beliau untuk membela aqidah ahlussunnah serta membongkar penyimpangan-penyimpangan aqidah mu’tazilah, jahmiyah maupun yang lainnya. Di antara pujian-pujian itu ialah:

a. Syamsudin bin Khalkan

Dalam Al-A’yan ia berkata, “Ia (Abu Hasan Al-Asy’ari) adalah seorang pakar dalam ilmu ushul, yang tegak dalam menolong madzhab ahlus sunnah, kepadanya kelompok Asy’ariyah di nisbatkan, dan kepopulerannya sudah tidak butuh lagi untuk menceritakan panjang lebar tentang beliau.” (Wafiyatul A’yan, 3/284-286)

b. Al-Yafi’I

Dalam kitab Mir’atul Janan, “Ia (Abu Hasan Al-Asy’ari) adalah seorang guru, imam, pembela sunnah, pemberi nasihat kepada umat, pemimpin dari para imam kebenaran, pembantah hujjah-hujjah ahli bid’ah, pembawa bendera manhaj kebenaran yang memancarkan cahaya terang dan ilmu yang kuat.” (Mir’atul Janan, 2/298)

c. Abu Bakar bin Qadhi Syuhbah

Berkata dalam kitab Tabaqat Asy-Syafi’iah, “Syaikh Abu Al-Hasan Al-Asy’ari Al-Bashari adalah seorang imam ahli kalam, pembela sunnahnya penghulu para Rasul, penolong agama.” (Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 1/113)

d. Al-Asnwai Asy-Syafi’I

Ia berkata, “Ia adalah seorang yang tegak dalam menolong ahlussunnah yang telah menundukkan sekte mu’tazilah ataupun sekte-sekte ahli bid’ah lainnya baik dengan lisan maupun tulisannya, memiliki banyak sekali karangan, dan kepopulerannya sudah tidak perlu lagi untuk diceritakan pajang lebar tentangnya.” (Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 1/47)

Kembali kepada Madzhab Ahlussunnah

Beliau tenggelam dalam aqidah mu’tazilah bukanlah dalam waktu sebentar, Ibnu Asakir di dalam kitabnya At-Tabyin telah menukil perkataan Ibnu Azrah yang mengatakan, “Awalnya Abu Hasan Al-Asy’ari adalah seorang mu’tazilah, dan ia berada di atas madzhab mu’tazilah selama empat puluh tahun.”

Abu Bakar bin Faurak berkata, “Abu Hasan Al-Asy’ari kembali dari madzhab mu’tazilah kepada madzhab ahlussunnah pada tahun 300 H.”

Waktu yang lama inilah yang telah membuat beliau menguasai ilmu-ilmu kalam secara mendalam yang menjadi pijakan aqidahnya sekte Mu’tazilah. Allah kemudian memberikan hidayah kepada beliau dan mengembalikannya kepada aqidah ahlussunnah wal jama’ah. Bahkan, setelah itu beliau menjadi seorang yang sangat getol untuk membantah dan membongkar penyimpangan-penyimpangan aqidah sekte mu’tazilah, jahmiyah, rafidhah maupun sekte-sekte lain yang menyimpang.

Di antara persaksian para ulama akan kembalinya beliau ke aqidah ahlus sunnah ialah:

a. Abu Al-Abbas Syamsudin Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakar bin Khalkan Asy-Syafi’I (681 H) dalam kitabnya Wafiyatul A’yan, 2/446, “Dulu Abu Hasan Al-Asy’ari adalah seorang mu’tazilah, lalu kemudian bertaubat.”

b. Imadudin Abu Al-Fida’ Isma’il bin Umar bin Katsir (774H) dalam kitabnya Al-Bidayah Wa An-Nihayah, 11/187, “Al-Asy’ari adalah seorang mu’tazilah, kemudian dia bertaubat darinya di kota Bashrah disampaikannya di atas mimbar, setelah itu ia membongkar keburukan dan penyimpangan-penyimpangan orang-orang mu’tazilah.”

c. Burhanudin Ibrahim bin Ali bin Muhammad bin Farahun Al-Ya’mari (779 H) dalam kitabnya Ad-Dibaaj Al-Madzhab Fi Ma’rifati A’yan Ulama Al-Madzhab hal 193, “Abu Hasan Al-Asy’ari pada awalnya adalah seorang mu’tazilah, kemudian ia kembali ke madzhab yang benar, madzhab ahlussunnah wal jama’ah. Banyak orang yang merasa kaget akan hal itu, beliau pun akhirnya ditanya tentang apa yang dilakukannya dan mengatakan bahwa dirinya melihat Rasulullah dalam mimpinya di bulan Ramadhan dan menyuruhnya agar kembali ke jalan yang hak dan memperjuangkannya. Itulah yang terjadi pada beliau, alhamdulillah.”

d. Tajudin Abu Nashr Abdul Wahab bin Taqiyudin As-Subki Asy-Syafi’I (771 H) dalam kitab Tabaqat Asy-Syafi’iah Al-Kubra, 2/246, “Abu Hasan Al-Asy’ari berada di atas madzhab mu’tazilah selama empat puluh tahun sampai ia menjadi Imamnya di kalangan orang-orang mu’tazilah. Di saat Allah berkehendak kepadanya untuk menjadi penolong agama Allah, dilapangkanlah dadanya untuk mengikuti kebenaran yang diawali dengan penyendiriannya untuk merenung di dalam rumahnya.” Kemudian disebutkanlah kisah beliau sebagaimana yang telah diceritakan oleh Ibnu Asakir sebelumnya.

Karya-karya beliau

Imam Abu Hasan Al-Asy’ari memiliki karya ilmiah, bahkan ada yang mengatakan bahwa beliau telah menulis sekitar 50 buku, dan ada yang menyebutkan lebih dari itu. Di antara karya-karya beliau ialah:

1. Idhahul Burhan Fi Ar-Radd ‘Ala Ahli Az-Zaigh Wa At-Tughyan
2. Tafsir Al-Qur’an, ia adalah kitab yang lengkap
3. Ar-Raddu ‘Ala Ibni Ar-Rawandi Fi Ash-Shifat Wa Al-Qur’an
4. Al-Fushul Fi Ar-Radd ‘Ala Mulhidin Wa Al-Kharijin ‘Anil Millah
5. Al-Qami Li Kitab Al-Khalidi Fi Al-Iradah
6. Kitab Al-Ijtihad Fi Al-Ahkam
7. Kitab Al-Akhbar Wa Tashhihuha
8. Taba Al-Idraak Fi Funun Min Lathifil Kalam
9. Kitab Al-Imamah
10. At-Tabyiin ‘An Ushuludin
11. Asy-Syarh Wa Tafsil Fi Ar-Radd ‘Ala Ahli Al-Ifki Wa At-Tadhlil
12. Al-’Amdu Fi Ar-Ru’yah
13. Kitab Al-Mujiz
14. Kitab Khalqil A’mal
15. Kitba Ash-Shifat
16. Kitab Ar-Radd Ala Al-Mujasimah
17. Al-Lam’u Fi Ar-Radd Ala Ahli Az-Zaigh Wa Al-Bida’
18. An-Naqdhu Ala Al-Jibai’
19. An-Naqdhu Ala Al-Balakhi
20. Jumal Makalaat Al-Mulhidin
21. Kitab Fi Ash-Shifat
22. Adab Al-Jadal
23. Al-Funun Fi Ar-Radd Ala Al-Mulhidin
24. An-Nawadir Fi Daqaiqil Kalam
25. Jawazu Ru’yatillah Bi Al-Abshar

Demikianlah sekilas perjalanan hidup beliau, dimana Allah telah memberikan hidayah dan petunjuk ke jalan yang benar dengan kembalinya dari aqidah mu’tazilah menuju aqidah ahlussunnah. Bahkan beliau menjadi salah seorang yang sangat gigih dalam membela ahlussunnah dan membongkar penyimpangan-penyimpangan sekte mu’tazilah dan sekte-sekte ahli bid’ah lainnya.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa maupun kesalahannya, kedua orang tuanya, dan seluruh kaum muslimin. Wallohu a’lam bishowab

Sumber:

http://shamela.ws

http://www.sunna.info

http://alnasiha.net

Leave a Reply

Artikel Terpopuler

Senyum Hari Ini

  • Berita Kematian Berita Kematian
    Seseorang dikagetkan dengan berita pada salah satu surat kabar yang sedang dia baca karena...
Index | |

SMS Dakwah Gratis Hari Ini

  • Penyebab Ketenangan Dalam Sholat Penyebab Ketenangan Dalam Sholat
     إِنَّ مِنْ تَوْقِيرِ الصَّلاةِ أَنْ تَأتِي قَبْلَ الإِقَامَةِ  Artinya: Sesungguhnya salah satu dari hal...
Index | |

Konsultasi Online

Al-Ustadz Husnul Yaqin, Lc
Al-Ustadz Amar Abdullah
Al-Ustadz Saed As-Saedy, Lc

Temukan Kami


Yayasan Al-Sofwa

Jl. Raya Lenteng Agung Barat No. 35
Kode Pos 12610
Jakarta Selatan - Indonesia

Contact Us

Phone : 62-21-78836327
Fax : 62-21-78836326
e-mail : info@alsofwah.or.id

Statistik