Situs Dakwah & Informasi Islam
Arsip Sastra

Memaafkan

memaafkanPada tahun 202 H Ibrahim bin al-Mahdi membangkang kepada al-Makmun. Al-Makmun berhasil menangkapnya. Dia dihadapkan di depan al-Makmun, sementara para pembesar dan pejabat negara telah berkumpul di majlisnya, begitu pula para hakim dan sekretarisnya. Al-Makmun meminta pendapat semua yang hadir. Semuanya memberi pendapat satu, dibunuh. Di antara yang hadir adalah Ahmad bin Abu Khalid yang tidak berpendapat, al-Makmun bertanya kepadanya, “Mengapa kamu diam?”

Dia menjawab, “Ya Amirul Mukminin, betapa sering orang sepertimu membunuh orang sepertinya. Dan tidak ada orang sepertimu yang memaafkan orang sepertinya. Kamu menjadi orang satu-satunya yang memaafkan, lebih aku sukai daripada kamu ikut berpartisipasi dalam menghukumnya.” Al-Makmun mengagumi ucapannya.

Kemudian bertanya kepada pamannya Ibrahim, “Apa yang mendorongmu melakukan perbuatan yang menyeretmu pada kematian?” Ibrahim menjawab, “Kemampuan menghilangkan kemarahan. Pemilik dendam diberi pilihan untuk melakukan qishash, sementara maaf lebih dekat kepadamu. Allah telah menjadikanmu di atas orang-orang yang memiliki kebijaksanaan sebagaimana Dia telah menjadikanku di atas orang-orang yang memiliki dosa. Jika engkau memaafkan maka itu dengan kemurahanmu, jika engkau menghukum maka itu dengan keadilanmu. Walaupun dosaku lebih besar untuk dimaafkan tetapi maafmu ya Amirul Mukminin lebih besar untuk diungguli oleh dosa.” Maka al-Makmun memaafkannya.

Dikisahkan bahwa seorang penyair mendendangkan syairnya di hadapan Zubaidah binti Ja’far bin Abu Ja’far Al-Mansur, dia berkata,

Wahai Zubaidah putri Ja’far
beruntunglah pemintamu dengan pemberianmu
Engkau memberi dengan kedua kakimu
seperti telapak tangan yang memberi secara melimpah.

Maka para pengawalnya mengepungnya dan hendak memukulinya, tetapi Zubaidah melarang mereka. Dia berkata, “Maksudnya baik tetapi dia salah. Ini lebih baik daripada dia ingin berbuat buruk lalu keburukannya terlaksana. Dia mendengar pepatah, ‘Tangan kirimu lebih dermawan daripada tangan kanan orang lain’. Dia mengira bahwa apabila dia mengucapkan itu maka itu lebih mendalam pujiannya. Berilah dia apa yang dia mau dan kasih tahu apa yang dia tidak tahu.”

Sebagian pembangkang Khalifah Harun al-Rasyid dibawa kepadanya, ketika dia berdiri di hadapannya, al-Rasyid bertanya, “Apa yang kamu ingin aku lakukan kepadamu?” Dia menjawab, “Yang engkau ingin Allah memperlakukanmu jika engaku berdiri di hadapan-Nya… lebih hina daripada diriku di hadapanmu.” Al-Rasyid tertunduk sesaat lalu mengangkat kepalanya dan berkata, “Pergilah, aku memaafkanmu.”

Ketika dia keluar, sebagian hadirin berkata, “Ya Amirul Mukminin, engkau menghabiskan hartamu… tentaramu banyak yang terbunuh, sehingga engkau berhasil menangkap pembangkang seperti dia dan hanya dengan satu kalimat engkau membebaskannya? Kami tidak menjamin orang-orang buruk pasti akan semakin melawanmu jika engkau berbuat baik kepada mereka.”

Maka al-Rasyid memerintahkan agar orang tersebut ditangkap kembali. Ketika dia dibawa menghadap Al-Rasyid dia menyadari pasti ada orang yang menghasut al-Rasyid. Dia berkata, “Ya Amirul Mukminin jangan taati ucapan mereka padaku. Seandainya Allah mentaati makhluk-Nya niscaya Dia tidak menjadikanmu khalifah atas mereka walaupun hanya sesaat.” Al-Rasyid membebaskannya.

Al-Ashma’i berkata, al-Harits bin Miskin datang kepada al-Makmun, al-Makmun bertanya satu masalah kepada al-Harits. Harits menjawab, “Aku katakan kepadamu sebagaimana yang dikatakan oleh Malik bin Anas kepada bapakmu Harun Al-Rasyid.” Lalu dia menyebutkan pendapatnya yang tidak disukai oleh al-Makmun. Al-Makmun berkata, “Sungguh kamu telah salah, begitu pula Malik.” Al-Harits menjawab, “Dan pendengar, ya Amirul Mukminin, kepada dua orang yang salah lebih salah lagi.”

Wajah al-Makmun berubah, al-Harits berdiri dan keluar, dia menyesali ucapannya. Di rumahnya dia tidak tenang sampai akhirnya utusan al-Makmun datang kepadanya. Dia yakin hal buruk hendak terjadi, dia mengambil kain kafannya dan datang kepada al-Makmun.

Al-Makmun memintanya mendekat kepadanya, kemudian memandangnya sambil berkata, “Wahai orang ini, sesungguhnya Allah Tabaraka wa Taala telah memerintahkan orang yang lebih baik darimu agar berucap lunak kepada orang yang lebih buruk dariku. Dia berfirman kepada NabiNya Musa ketika Dia mengutusnya kepada Fir’aun, ‘Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”

Al-Harits berkata, “Ya Amirul Mukminin. Aku mengakui kesalahanku dan beristighfar kepada Allah.” Al-Makmun berkata, “Semoga Allah memaafkanmu. Pergilah jika kamu ingin.”

Makarimul Akhlak, Ali Shalih Hazza’

Leave a Reply

Artikel Terpopuler

Senyum Hari Ini

  • Berita Kematian Berita Kematian
    Seseorang dikagetkan dengan berita pada salah satu surat kabar yang sedang dia baca karena...
Index | |

SMS Dakwah Gratis Hari Ini

  • Penyebab Ketenangan Dalam Sholat Penyebab Ketenangan Dalam Sholat
     إِنَّ مِنْ تَوْقِيرِ الصَّلاةِ أَنْ تَأتِي قَبْلَ الإِقَامَةِ  Artinya: Sesungguhnya salah satu dari hal...
Index | |

Konsultasi Online

Al-Ustadz Husnul Yaqin, Lc
Al-Ustadz Amar Abdullah
Al-Ustadz Saed As-Saedy, Lc

Temukan Kami


Yayasan Al-Sofwa

Jl. Raya Lenteng Agung Barat No. 35
Kode Pos 12610
Jakarta Selatan - Indonesia

Contact Us

Phone : 62-21-78836327
Fax : 62-21-78836326
e-mail : info@alsofwah.or.id

Statistik