Situs Dakwah & Informasi Islam
Arsip Kisah

Semoga Allah Memaafkanmu, Wahai Anakku

maafKisah nyata di mana aktor utamanya hampir saja kehilangan sesuatu yang terbaik dalam hidupnya, ialah sang ibu. Dia juga hampir kehilangan sesuatu yang paling berharga di akhirat, ialah surga. Akan tetapi, Allah mengaruniakan kepadanya dan dia pun tersadar dari kelalaiannya, terbangun dari tidur malamnya dan mendapatkan pahala dan ganjaran, insya Allah.

Dalam kisahnya ini, terdapat banyak petuah dan pelajaran bagi semua orang yang diperdaya nafsunya untuk berbuat durhaka kepada orang tuanya, baik kepada salah satu atau keduanya. Marilah kita simak kisahnya. H.M.M bercerita,

“Ayahku meninggal dunia sewaktu aku masih kecil, lalu ibuku mengurus perawatanku. Dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga agar bisa menghidupiku. Aku adalah putranya yang semata wayang. Dia memasukkanku ke sekolah dan aku belajar hingga bisa menamatkan pendidikan di perguruan tinggi. Aku pun sangat baik terhadapnya. Akhirnya, aku dikirim ke luar negeri.

Dia melepas kepergianku dengan linangan air mata sambil berkata kepadaku, ‘Putraku, jagalah dirimu dan jangan berhenti memberiku kabar. Kirimlah surat kemari hingga aku merasa tenang akan kesehatanmu.’

Setelah beberapa masa lamanya, aku mampu menuntaskan studiku. Aku pun kembali layaknya orang lain yang telah terpengaruh dengan kebudayaan Barat. Aku melihat agama sebagai biang kemunduran dan stagnasi!! Aku menjadi tidak percaya selain dengan kehidupan yang bersifat materialistik, na’udzubillah.

Aku berhasil menggapai posisi pekerjaan yang tinggi dan mulai mencari istri pendamping sampai akhirnya mendapatkannya. Ibuku telah memilihkan untukku seorang gadis yang taat beragama dan terjaga, tetapi aku merasa ogah selain dengan seorang gadis yang borju dan cantik, karena aku memimpikan hidup yang bergaya aristokratik!!

Selama enam bulan dari usia perkawinanku dengan wanita pilihanku, istriku berbuat makar terhadap ibuku sampai-sampai aku membenci ibuku. Pada suatu hari, aku masuk rumah dan kulihat istriku sedang menangis. Kutanyai dia mengenai sebabnya, lalu dia malah berkata, ‘Pilih salah satu, aku atau ibumu, yang tinggal di rumah ini. Aku tidak bisa bersabar terhadapnya lebih dari itu.’

Aku pun merasa kesetanan, dan pada saat marah kuusir ibuku dari rumah. Lalu ibuku keluar sambil menangis dan berkata, ‘Semoga Allah membahagiakanmu, wahai putraku.’

Perhatikan betapa perasaan seorang ibu itu sangat besar, penyayang dan pengasih. Meskipun putra satu-satunya telah mengusirnya dari rumah secara zhalim dan aniaya, namun dia tetap mendoakannya dengan kebahagiaan di dunia.”

Pembawa cerita melanjutkan kisahnya dan bertutur, “Selang beberapa jam dari kejadian itu, aku keluar untuk mencarinya, namun hasilnya nihil. Lalu aku pulang ke rumah. Sementara istriku -berkat tipu dayanya dan karena ketololanku sendiri- sanggup membuatku melupakan sang ibu yang berharga dan mulia itu!!

Berbagai informasi tentang ibuku sudah terputus dariku, tepatnya pada saat aku menderita penyakit ganas yang menyebabkanku diopname di rumah sakit. Ibuku mengetahui berita itu lalu datang membesukku. Kala itu, istriku sedang bersamaku. Belum sempat dia menemuiku, istriku sudah mengusirnya dan berkata kepadanya, ‘Putramu tidak ada di sini… Apa yang kamu inginkan dari kami… Enyahlah dari hadapan kami…’

Akhirnya, ibuku pun pulang lagi. Aku keluar dari rumah sakit setelah waktu yang lama sampai kondisi kejiwaanku pulih kembali. Aku kehilangan pekerjaan dan rumah, dan hutang-hutangku pun telah menumpuk. Semua itu karena istriku terlalu menjejaliku dengan permintaan-permintaannya yang amat banyak. Klimaksnya, istriku yang cantik itu pun membantah dan berkata, ‘Selagi kamu telah kehilangan pekerjaan dan hartamu, dan takkan kembali lagi posisi atau kedudukanmu di tengah masyarakat, maka secara jelas kini kunyatakan padamu bahwa aku tidak butuh kamu lagi….ceraikan aku!’

Ucapan yang kudengar ini bagaikan petir yang menyambar kepalaku. Aku pun menceraikannya. Saat itulah, aku tergugah dari tidur yang selama ini kujalani. Aku pun keluar tak tentu arah tujuanku untuk mencari ibuku. Akhirnya, aku menemukannya. Akan tetapi, di manakah aku menemukannya?!

Ibuku mendekam di salah satu barak penampungan; tempat berkumpulnya mereka yang hidup sebatang kara dan tidak punya orang yang menanggung biaya hidupnya. Mereka makan dan minum dari sedekah. Aku bergegas menemuinya. Aku melihat seringnya dia menangis sangat berpengaruh pada dirinya; dia terlihat kurus. Belum sempat kulihat dia hingga aku pun bersimpuh di kedua kakinya dan menangis tersedu-sedu. Dia pun turut menangis bersamaku. Sekitar satu jam penuh, kami larut dalam suasana semacam ini. Setelah itu, aku segera membawanya pulang ke rumah. Aku bersumpah pada diriku untuk selalu patuh kepadanya; dan itu setelah kutaati perintah-perintah Allah dan kujauhi larangan-laranganNya.

Berbuat durhaka terhadap kedua orang tua itu suatu dosa yang sangat besar dan termasuk kategori dosa-dosa besar. Khususnya, berbuat durhaka terhadap ibu. Ketika sang anak ini berbuat durhaka terhadap ibunya, maka hidupnya menjadi sengsara dan dia pun hidup penuh musibah dan cobaan. Seandainya bukan karena karunia Allah kepadanya untuk membuatnya tersadar dari kelengahannya dan dia lekas menyadari kesalahannya dan kembali ke jalan hidayah, niscaya dia hidup sepanjang umurnya dalam kepedihan dan kesengsaraan. Untungnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan kepadanya kemuliaan dan kemurahan hatiNya, dan dia pun bisa menjalani hidup yang terindah bersama ibunya.

Allah ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orangtua ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu.” (Luqman: 14).

Seorang lelaki pernah datang kepada Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak kupergauli dengan baik?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya lagi, “Lalu siapa?” “Ibumu,” jawab Nabi sekali lagi. Dia bertanya lagi, “Lalu siapa?” “Ibumu,” jawab Nabi ketiga kali. Dia bertanya lagi, “Lalu siapa?” “Bapakmu.” jawab Nabi keempat kali.” (Muttafaq ‘alaih)

Sumber: Serial Kisah Teladan 3, Muhamad Shalih Al-Qahthani, Hal: 41, Penerbit Darul Haq

Leave a Reply

Artikel Terpopuler

Senyum Hari Ini

  • Berita Kematian Berita Kematian
    Seseorang dikagetkan dengan berita pada salah satu surat kabar yang sedang dia baca karena...
Index | |

SMS Dakwah Gratis Hari Ini

  • Penyebab Ketenangan Dalam Sholat Penyebab Ketenangan Dalam Sholat
     إِنَّ مِنْ تَوْقِيرِ الصَّلاةِ أَنْ تَأتِي قَبْلَ الإِقَامَةِ  Artinya: Sesungguhnya salah satu dari hal...
Index | |

Konsultasi Online

Al-Ustadz Husnul Yaqin, Lc
Al-Ustadz Amar Abdullah
Al-Ustadz Saed As-Saedy, Lc

Temukan Kami


Yayasan Al-Sofwa

Jl. Raya Lenteng Agung Barat No. 35
Kode Pos 12610
Jakarta Selatan - Indonesia

Contact Us

Phone : 62-21-78836327
Fax : 62-21-78836326
e-mail : info@alsofwah.or.id

Statistik