Situs Dakwah & Informasi Islam
Qashashul Anbiyaa, Qashashul Anbiyaa'

KISAH NABI NUH

prahuSepeninggal Nabi Adam ‘alaihissalam, manusia tinggal dalam kurun waktu yang cukup lama menjadi umat yang satu yang mengikuti petunjuk. Setelah itu mereka berselisih dan setan pun memasukkan kejelekan yang bermacam-macam kepada mereka dengan berbagai cara:

Ketika sejumlah orang shalih dari kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam meninggal dan kaum itu bersedih atas meninggalnya mereka, maka syetan datang kepada mereka serta memerintahkan mereka supaya membuatkan patung mereka sebagai tugu silsilah serta untuk mengenang perilaku mereka, dan itulah awal timbulnya penyimpangan akidah.

Setelah mereka yang membuat patung orang-orang shalih binasa, maka datang generasi setelah mereka dan pengetahuan tentang sejarah patung itu telah hilang maka syetan berkata kepada mereka, “Patung-patung tersebut adalah wadd, suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr, dan nenek moyangmu telah menyembah patung-patung itu serta memohon pertolongan kepada patung-patung tersebut. Dengan patung-patung itulah mereka meminta hujan dan di jauhkan dari penyakit.” Syetan terus-menerus membujuk mereka, sehingga akhirnya mereka menyembah patung-patung tersebut dengan sungguh-sungguh walaupun datang kepada mereka nasehat dari para pemberi nasehat.[1]

Kemudian Allah mengutus Nabi Nuh AS di tengah-tengah mereka, dimana mereka mengetahuinya serta mengetahui kebenaran yang dibawanya, kejujurannya dan kesempurnaan akhlaknya, seraya berkata, “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Ilah bagimu selain-Nya.” (Al-A’raf: 59).

Nuh AS memerintahkan kepada mereka supaya memperoleh kebaikan baik di dunia maupun di akhirat, seraya berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepadamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertaqwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui.” (Nuh: 1-4).

Ketika Nuh AS mulai memerintahkan kepada mereka supaya beribadah kepada Allah semata dan membuang pikiran mereka yang keliru serta menjauhi perbuatan menyimpang yang mereka perbuat yang mendatangkan siksaan di dunia dan di akhirat, seraya mereka menjawab, “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.” (Al-A’raf: 60). Dalam ayat lain dikatakan, “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina diantara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” (Hud: 27).

Mereka menuntut Nuh AS agar mengusir orang-orang yang bersamanya dari kaum mukminin sebagai tuntutan yang muncul dari kesombongan sebagian dari mereka, penghinaan terhadap kebenaran dan pelecehan terhadap mahluk.

Kemudian Nuh AS menjelaskan kepada mereka bahwa ajaran yang dibawanya bukanlah ajaran yang sesat, melainkan hendak menghilangkan kesesatan dari mahluk, dan ia adalah seorang rasul yang membawa kebenaran dan keterangan yang nyata dari Rabb-nya. Sedangkan berkenaan dengan keberadaan orang-orang yang beriman, maka tidak sepatutnya mengusir mereka, bahkan mereka berhak mendapatkan penghormatan dan penghargaan; dan ia tidak akan menyerukan kepada mereka seruan yang membuat Rabb-nya mendatangkan kesempitan di dalamnya, seraya Nuh AS berkata, “Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): “Aku mempunyai gudang-gudang rezki dan kekayaan dari Allah, dan aku tidak juga mengetahui yang ghaib, dan tidak (pula) aku mengatakan: “Bahwa sesunguhnya aku adalah malaikat”, dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu: “Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka.” (Hud: 31).

Nuh ‘alaihissalam terus-menerus menyeru mereka siang dan malam; secara sembunyi-sembunyi dan secara terang-terangan, tetapi seruannya itu hanyalah menambah mereka lari dari kebenaran, dan semakin menunjukkan penentangan dan kedurhakaan mereka dengan semakin giat beribadah serta bersandar kepada selain Allah, sehingga Nuh AS berkata, “Ya Rabbku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka. Dan melakukan tipu-daya yang amat besar.” Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilah-ilah kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” (Nuh: 21-23).

Ketika Nuh AS melihat bahwa peringatan tidak berfaidah sama sekali bagi mereka, bahkan setiap berganti tahun, maka kedurhakaan mereka semakin bertambah buruk dari kedurhakaan sebelumnya, seraya berkata, “Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma’siat lagi sangat kafir.” (Nuh: 26-27).

Allah mengabulkan permohonan Nuh ‘alaihissalam  dan memerintahkan kepadanya supaya membuat perahu sebagai perlindungan dari-Nya. Pertolongan dan pendidikan yang baik dari Allah kepada Nuh AS melalui perintah pembuatan perahu merupakan karunia dari Allah bagi hamba-hamba-Nya.

Dengan pembuatan perahu tersebut, maka Nuh ‘alaihissalam memiliki keutamaan serta sebagai pelopor dalam pembuatan perahu yang bermanfaat bagi kehidupan agama dan dunia di sepanjang masa yang tidak terhitung dan tidak terhingga. Selanjutnya Allah memberitahu kepadanya mengenai kepastian ditenggelamkannya mereka, dan ia tidak mempertanyakan berita itu kepada Rabb-nya karena mereka adalah orang-orang zhalim.

Ketika Nuh ‘alaihissalam sedang membuat perahu, maka sekelompok orang dari kaumnya melintas di hadapannya, kemudian mereka mengelilinginya sambil mencemoohkannya, sehingga ia berkata kepada mereka, “Jika pada hari ini kamu mencemoohkan kami, niscaya kami pun akan mencemoohkanmu ketika datang kepadamu kebinasaan (siksaan).”

Allah mewahyukan kepadanya, bahwa jika tiba waktu itu, maka seluruh permukaan bumi akan memancarkan mata air dari berbagai arah sehingga merendam tempat-tempat yang biasanya tidak terjangkau air, dan Allah memerintahkan Nuh AS supaya membawa setiap binatang sepasang-sepasang agar keturunannya terhindar dari kepunahan, karena tidak mungkin membawanya seluruhnya.

Hikmah diputuskannya mempertahankan keturunan seluruh binatang yang telah diciptakan Allah erat kaitannya dengan kemaslahatan hidup manusia. Kemudian ikut naik bersamanya semua orang-orang beriman baik laki-laki maupun wanita.

Kenyataannya saat itu, bahwa kaum Nuh ‘alaihissalam tidak beriman kepadanya kecuali hanya sedikit; dan Allah menyuruh Nuh AS supaya membawa keluarganya, kecuali orang-orang yang telah ditetapkan celaka. Setelah Nuh AS menaikkan seluruh orang yang telah diperintahkan kepadanya, seraya berkata kepada mereka, “Sebutlah nama Allah pada saat berlayar dan ketika berlabuh, karena bagaimanapun besarnya sarana, tetapi tetap membutuhkan rahmat Allah serta tidak akan sempurna, kecuali atas pertolongan Allah.”

Seketika itu Allah memancarkan sejumlah mata air dari bumi dan memerintahkan langit supaya mencurahkan air hujan yang berlimpah-limpah, sehingga bertemu air yang memancar dari bumi dengan air yang tercurah dari langit, kemudian membajiri tempat-tempat yang rendah. Selanjutnya air naik sedikit demi sedikit hingga menjangkau tempat-tempat yang tinggi serta menggenangi puncak-puncak gunung yang tinggi. Sedang perahu itu berlayar membawa mereka (rombongan Nabi Nuh ‘alaihissalam ) dalam terpaan badai gelombang seperti sebuah gunung yang meliuk-liuk ke kanan dan ke kiri.

Dalam keadaan yang sangat mengerikan itu, Nabi Nuh AS melihat putranya yang kafir[2] yang mengikuti agama kaumnya dan mengingkari agama yang telah dibawa bapaknya; dimana ia berlari seperti yang dilakukan kaumnya menghindari air yang mengalir sangat deras, lalu Nabi Nuh AS memanggilnya dengan suara lemah-lembut: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” (Hud: 42).

Ketika itu kesombongan telah menguasai hati putranya, padahal ketika itu sifat tersebut telah hilang kecuali dari hati-hati yang tertutup, seraya menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” (Hud: 43). Putranya tidak takut dengan bencana yang menimpa mereka, padahal air akan terus naik dan menggenangi puncak-puncak gunung, seraya Nabi Nuh AS berkata kepadanya, “Tidak ada yang melindungi hari ini dari adzab Allah selain Allah (saja) yang Maha Penyayang.” (Hud: 43). Pada saat itu tidak ada gunung, benteng atau tempat-tempat lainnya yang dapat dijadikan sebagai tempat berlindung dari bencana tersebut, selain rahmat Allah. Sedang rahmat Allah saat itu hanya diperuntukkan bagi para penumpang perahu yang ikut bersama Nabi Nuh ‘alaihissalam , “Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya.” (Hud: 43). Karena putranya telah menolak ajakannya sehingga ia termasuk dalam golongan orang-orang yang ditenggelamkan.

Allah menenggelamkan orang-orang kafir seluruhnya dan menyelamatkan Nabi Nuh ‘alaihissalam dan semua orang-orang yang turut bersamanya. Hal itu menjadi bukti, bahwa ajaran agama yang dibawa Nabi Nuh ‘alaihissalam mengenai tauhid, kebangkitan dari kubur dan lain-lain merupakan sesuatu yang hak, sedangkan ajaran mereka yang menentangnya adalah bathil. Juga menjadi dalil adanya balasan di dunia, dimana orang-orang beriman berhak memperoleh keselamatan dan kemuliaan, sedangkan orang-orang kafir berhak memperoleh kecelakaan dan kehinaan.

Setelah tujuan yang besar tercapai, maka Alllah Ta’ala memerintahkan kepada langit agar menghentikan air hujan dan memerintahkan kepada bumi agar menyerap air yang mengalir di atasnya yakni menguranginya sedikit demi sedikit. Ketika air surut, maka perahu itu bertengger di atas gunung Judiy; sebuah gunung yang sangat tinggi yang terletak di wilayah Maushil (wilayah di Irak bagian utara). Ini merupakan bukti bahwa semua gunung yang ada di sana terendam dan terlintasi air banjir.

Nabi Nuh ‘alaihissalam merasa sedih dengan bencana yang menimpa putranya (Qan’an), sehingga ia pun memohon kepada Rabbnya dengan suara yang lemah-lembut dan penuh kekhusyuan seraya mendekatkan diri kepada-Nya: “Ya Rabbku sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar.” (Hud: 45). Apabila aku membawa naik keluargaku bersamaku maka sesungguhnya Engkau Maha Penyayang di antara para penyayang.

Kemudian Rabbnya ‘Azza Wa Jalla berfirman kepadanya: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan).” (Hud: 46). Yakni ia bukanlah anggota keluarga yang telah dijanjikan Allah akan diselamatkan, dan Allah telah membatasinya dengan firman-Nya, “… kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya.” (Hud: 40). Kemudian Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik.” (Hud: 46). Sedangkan do’a keselamatan itu kamu peruntukkan bagi puteramu yang jelas-jelas mengikuti agama kaumnya maka “… janganlahkamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnaya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (Hud: 46).

Itulah teguran Allah kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam , dimana Allah memberikan pengajaran serta nasehat kepadanya mengenai do’a semacam itu yang diucapkan semata-mata karena belas kasihan orang tua kepada putranya. Sedangkan hal yang wajib dalam berdo’a, bahwa pelakunya harus berilmu dan ikhlas di dalam memohon keridhaan Allah Ta’ala.

Nabi Nuh ‘alaihissalam pun berkata, “Ya Rabbku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” Difirmankan: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mu’min) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa adzab yang pedih dari Kami.” (Hud: 47-48).

Nabi Nuh ‘alaihissalam turun dari perahunya dengan selamat, lalu Allah Ta’ala memberikan keberkahan kepada keturunannya yang beriman dan menjadikan keturunannya itu tetap hidup, dimana putranya yang bernama Yafits telah memenuhi wilayah bagian Timur dengan keturunanya, Ham telah memenuhi wilayah bagian barat dengan keturunannya dan Sam telah memenuhi wilayah di antara kedua wilayah tersebut dengan keturunannya.

Nabi Nuh AS hidup di tengah-tengah kaumnya selama 950 tahun, dan ia hidup setelah kebinasaan mereka selama waktu yang telah ditetapkan menurut kehendak Allah.

Nabi Nuh ‘alaihissalam adalah salah seorang dari para rasul ulul ‘azmi dan termasuk salah seorang dari rasul-rasul yang akan dimintai syafaat pada hari kiamat. Nabi Nuh AS ialah rasul yang pertama kali diutus kepada manusia dan menjadi bapak manusia yang kedua (setelah Nabi Adam ‘alaihissalam ).


[1][1][1]Al-Bukhari telah meriwayatkan (4920) dari Ibnu Abbas RA berkenaan dengan firman Allah Ta’ala: Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilah-ilah kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” (Nuh: 23), seraya berkata: “Nama-nama itu adalah nama-nama orang-orang shaleh dari Nabi Nuh AS, dan ketika mereka wafat, maka syetan membisikkan kepada kaum mereka supaya membuatkan patung mereka di majlis-majlis mereka dan menamai patung-patung itu dengan nama-nama mereka, kemudian mereka melakukannya, tetapi belum disembah. Sehingga ketika mereka binasa maka syetan pun mengganti pengetahuan tentang patung-patung tersebut sehingga akhirnya disembah.”

Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Bukan hanya satu orang salaf yang berkata: “Ketika orang-orang shaleh wafat, maka kaum mereka beri’tikaf di kuburan-kuburan mereka serta membuat patung-patung mereka, dan setelah kejadian tersebut berlangsung cukup lama, maka kaum mereka menyembah patung-patung mereka.”

Al-Qurthubi berkata: “Alasan kaum mereka membuatkan patung-patung mereka untuk mengenang mereka dan amal shaleh mereka, sehingga kaum mereka berharap memiliki kesungguhan seperti kesungguhan mereka serta beribadah kepada Allah di kuburan-kuburan mereka, kemudian sepeninggal mereka datang generasi yang tidak mengerti tujuan pembuatan patung-patung tersebut sehingga syetan membisiki generasi itu; bahwa nenek moyangnya telah menyembah serta mengagungkan patung-patung tersebut.” Untuk lebih jelasnya dapat merujuk Fath Al-Majîd (1/281-282).

 

[2]Putera Nabi Nuh AS yang kafir ialah Qan’an, sedang putera-puteranya yang beriman ialah Sam, Ham dan Yafits.

Leave a Reply

Artikel Terpopuler

Senyum Hari Ini

  • Berita Kematian Berita Kematian
    Seseorang dikagetkan dengan berita pada salah satu surat kabar yang sedang dia baca karena...
Index | |

SMS Dakwah Gratis Hari Ini

  • Penyebab Ketenangan Dalam Sholat Penyebab Ketenangan Dalam Sholat
     إِنَّ مِنْ تَوْقِيرِ الصَّلاةِ أَنْ تَأتِي قَبْلَ الإِقَامَةِ  Artinya: Sesungguhnya salah satu dari hal...
Index | |

Konsultasi Online

Al-Ustadz Husnul Yaqin, Lc
Al-Ustadz Amar Abdullah
Al-Ustadz Saed As-Saedy, Lc

Temukan Kami


Yayasan Al-Sofwa

Jl. Raya Lenteng Agung Barat No. 35
Kode Pos 12610
Jakarta Selatan - Indonesia

Contact Us

Phone : 62-21-78836327
Fax : 62-21-78836326
e-mail : info@alsofwah.or.id

Statistik